Day 1 - LLM Architecture Refresher
Goals (dari roadmap)
- Pahami transformer basics: encoder vs decoder
- Pahami context window & tokenisasi (tiktoken)
- Bisa jelasin beda GPT (decoder-only) vs BERT (encoder-only) dalam 2 menit
Unsupervised Pre-Training

Transformers LM Component
1. Feed Forward Neural Network
Kata apa yang akan muncul setelah kata ini
Decoder only.

2. Self-Attention
What does it refer to?
Tokenizer

The Big Picture (Gambaran Besar)
misalnya saat Anda menggunakan Google Translate dari “I love AI” ke Indonesia.
- Tokenizer: Memecah “I love AI” menjadi
["I", "love", "AI"]. - Embedding: Mengubah kata-kata itu menjadi angka (vektor) yang punya makna.
- Encoder: Membaca angka-angka itu dan memahami konteks: “Oh, ini kalimat positif tentang menyukai teknologi.”
- Decoder: Mengambil pemahaman itu, lalu mulai menulis terjemahan:
- Menghasilkan angka…
- Output Layer memilih kata terbaik… “Saya”
- Ulangi… “suka”
- Ulangi… “AI”
- Tokenizer (lagi): Menggabungkan potongan-potongan itu menjadi kalimat utuh: “Saya suka AI”.
Hubungan Fast Forward Neural Network (FFNN) & Self-Attention pada LLM Encoder vs Decoder
Transformer Basics: Encoder vs Decoder.
Arsitektur ini pertama kali diperkenalkan dalam paper terkenal “Attention is All You Need” (2017).

-
Encoder (The Understander): Mengubah token input menjadi Contextual Embeddings. “Representasi angka” yang kamu maksud adalah vektor padat (dense vector) yang berisi pemahaman makna kata sesuai konteks kalimatnya.
- Sifat: Bidirectional (Bisa melihat ke kiri dan ke kanan seluruh kalimat sekaligus).
-
Decoder (The Generator): Mengambil representasi tersebut (sering lewat mekanisme Cross-Attention) dan memprediksi token berikutnya (next token prediction) secara autoregresif.
- Sifat: Unidirectional (Hanya boleh melihat ke belakang/masa lalu).
Nah, karena Decoder tugasnya adalah memprediksi kata selanjutnya, ada satu mekanisme “penutup mata” yang dipasang di Decoder tapi tidak ada di Encoder.
Mekanisme tersebut disebut Cheating (mencontek).
Bayangkan kamu sedang ujian “Melengkapi Kalimat”.
Soal: “Ibu pergi ke _____ untuk membeli sayur.”
Jika kamu bisa mengintip jawaban di masa depan (kata “pasar”), kamu tidak akan belajar memahami konteks (“membeli sayur” biasanya di pasar). Kamu hanya akan belajar menyalin kata sebelah kanan. Saat tes beneran (inference) di mana masa depan belum terjadi, modelmu akan bingung karena tidak ada yang bisa dicontek.
Mekanisme ini disebut Masked Self-Attention.
Secara teknis, kita memberikan nilai minus tak hingga () pada matriks attention untuk token di masa depan, sehingga probabilitasnya menjadi 0 setelah Softmax.
Tokenisasi & Context Window
Ini ibarat “mata uang” dan “dompet” di dunia LLM.
1. Tokenisasi (The Currency)
Komputer tidak mengerti huruf “A” atau kata “Budi”. Mereka cuma mengerti angka. Jadi, tugas Tokenisasi adalah memotong-motong teks kita menjadi potongan kecil (token) dan memberinya nomor ID.
Tadi kamu sempat menebak dua cara:
- Per Kata (misal:
saya,suka,koding). - Per Karakter (misal:
s,a,y,a).
Ternyata, GPT menggunakan jalan tengah yang disebut Sub-word Tokenization (spesifiknya algoritma BPE - Byte Pair Encoding). Library tiktoken yang ada di roadmapmu itu alat untuk melakukan ini dengan super cepat.
Prinsip kerjanya:
- Kata yang sering muncul dijadikan 1 token (hemat tempat).
- Kata yang jarang/kompleks dipecah menjadi beberapa suku kata.
Fakta Menarik tentang tiktoken (Library OpenAI): Pernah bertanya kenapa biaya API GPT untuk Bahasa Indonesia sering lebih mahal daripada Bahasa Inggris? Karena tokenisasinya dioptimalkan untuk Inggris.
-
“Apple” (Inggris) = 1 token.
-
“Apel” (Indonesa) = mungkin dipecah jadi “Ap” + “el” (2 token). Jadi, kalimat yang sama panjangnya, jumlah tokennya bisa lebih banyak di Bahasa Indonesia.